Jumat, 21 Agustus 2009

Ahmad Dahlan

Kyai Haji Ahmad Dahlan (lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868 – meninggal di Yogyakarta, 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kasultanan Yogyakarta pada masa itu.

Latar belakang keluarga dan pendidikan

Nama kecil K.H. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwisy. Ia merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhanya saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Dalam silsilah ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa (Kutojo dan Safwan, 1991). Adapun silsilahnya ialah Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan) bin KH. Abu Bakar bin KH. Muhammad Sulaiman bin Kyai Murtadla bin Kyai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom) bin Maulana Muhammad Fadlullah (Prapen) bin Maulana 'Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim (Yunus Salam, 1968: 6).

Pada umur 15 tahun, beliau pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, beliau berganti nama menjadi Ahmad Dahlan.

Pada tahun 1903, beliau bertolak kembali ke Mekah dan menetap selama dua tahun. Pada masa ini, beliau sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, K.H. Hasyim Asyari. Pada tahun 1912, ia mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta.

Sepulang dari Mekkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah (Kutojo dan Safwan, 1991). Disamping itu KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. la juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Ia pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta (Yunus Salam, 1968: 9).

Beliau dimakamkan di KarangKajen, Yogyakarta.

Pengalaman Organisasi

Disamping aktif dalam menggulirkan gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, ia juga tidak lupa akan tugasnya sebagai pribadi yang mempunyai tanggung jawab pada keluarganya. Disamping itu, ia juga dikenal sebagai seorang wirausahawan yang cukup berhasil dengan berdagang batik yang saat itu merupakan profesi entrepreneurship yang cukup menggejala di masyarakat.

Sebagai seorang yang aktif dalam kegiatan bermasyarakat dan mempunyai gagasan-gagasan cemerlang, Dahlan juga dengan mudah diterima dan dihormati di tengah kalangan masyarakat, sehingga ia juga dengan cepat mendapatkan tempat di organisasi Jam'iyatul Khair, Budi Utomo, Syarikat Islam dan Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Pada tahun 1912, Ahmad Dahlan pun mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaharuan Islam di bumi Nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. la ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur'an dan al-Hadits. Perkumpulan ini berdiri bertepatan pada tanggal 18 Nopember 1912. Dan sejak awal Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.

Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan resistensi, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Berbagai fitnahan, tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya. la dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya kyai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen dan macam-macam tuduhan lain. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar. Keteguhan hatinya untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut.

Pada tanggal 20 Desember 1912, Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Permohonan itu baru dikabulkan pada tahun 1914, dengan Surat Ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914. Izin itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan organisasi ini hanya boleh bergerak di daerah Yogyakarta. Dari Pemerintah Hindia Belanda timbul kekhawatiran akan perkembangan organisasi ini. Itulah sebabnya kegiatannya dibatasi. Walaupun Muhammadiyah dibatasi, tetapi di daerah lain seperti Srandakan, Wonosari dan Imogiri dan lain-Iain tempat telah berdiri cabang Muhammadiyah. Hal ini jelas bertentangan dengan keinginan pemerintah Hindia Belanda. Untuk mengatasinya, maka KH. Ahmad Dahlan menyiasatinya dengan menganjurkan agar cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta memakai nama lain. Misalnya Nurul Islam di Pekalongan, Ujung Pandang dengan nama Al-Munir, di Garut dengan nama Ahmadiyah. Sedangkan di Solo berdiri perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF) yang mendapat pimpinan dari cabang Muhammadiyah. Bahkan dalam kota Yogyakarta sendiri ia menganjurkan adanya jama'ah dan perkumpulan untuk mengadakan pengajian dan menjalankan kepentingan Islam. Perkumpulan-perkumpulan dan Jama'ah-jama'ah ini mendapat bimbingan dari Muhammadiyah, yang diantaranya ialah Ikhwanul Muslimin, Taqwimuddin, Cahaya Muda, Hambudi-Suci, Khayatul Qulub, Priya Utama, Dewan Islam, Thaharatul Qulub, Thaharatul-Aba, Ta'awanu alal birri, Ta'ruf bima kanu wal- Fajri, Wal-Ashri, Jamiyatul Muslimin, Syahratul Mubtadi (Kutojo dan Safwan, 1991: 33).

Gagasan pembaharuan Muhammadiyah disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, disamping juga melalui relasi-relasi dagang yang dimilikinya. Gagasan ini ternyata mendapatkan sambutan yang besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah makin lama makin berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1921 Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.

Sebagai seorang yang demokratis dalam melaksanakan aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, Dahlan juga memfasilitasi para anggota Muhammadiyah untuk proses evaluasi kerja dan pemilihan pemimpin dalam Muhammadiyah. Selama hidupnya dalam aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, telah diselenggarakan dua belas kali pertemuan anggota (sekali dalam setahun), yang saat itu dipakai istilah AIgemeene Vergadering (persidangan umum).

Menjadi Pahlawan Nasional

Atas jasa-jasa KH. Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa ini melalui pembaharuan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961. Dasar-dasar penetapan itu ialah sebagai berikut:

  1. KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat;
  2. Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan umat, dengan dasar iman dan Islam;
  3. Dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam; dan
  4. Dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan dan berfungsi sosial, setingkat dengan kaum pria.

Rabu, 19 Agustus 2009

Jengis Khan Dan Hancurnya Sebuah Peradaban

PENDAHULUAN
1.Latar Belakang.
Ratusan ribu mayat tanpa kepala berserakan dan tumpang tindih
memenuhi jalan-jalan, parit-parit dan lapangan-lapangan.
Disekitarnya bangunan-bangunan megah dan indah banyak yang tinggal
puing-puing dan rerontokan.
Asap masih mengepul dari bangunan-bangunan yang
dibakar. Tentara dari pangkat rendah sampai tinggi sibuk memenggal
kepala ribuan manusia dan kemudian memisahkan kepala yang
terpisah dari tubuhnya itu menurut kelompok: kepala wanita,
anak-anak, orang tua, dipisahkan satu dari yang lain.
Sungai Dajlah atau Tigris berubah
menjadi hitam disebabkan tinta ribuan manuskrip yang dilempar ke
dalamnya. Perpustakaan, rumah sakit, mesjid, madrasah, tempat
pemandian dan rumah para bangsawan, toko dan rumah makan –
semuanya dihancurkan.

Demikianlah, kota yang selama beberapa abad menjadi pusat
terbesar peradaban Islam itupun musnah dalam sekejap mata. Setelah
puas, pasukan penakluk itupun bersiap-siap pergi tanpa penyesalan
sedikitpun. Mereka kini hanya sibuk mengumpulkan barang-barang
jarahan yang berharga: timbunan perhiasan yang tak terni lai
harganya, berkilo-kilo batangan emas dan uang dinar, batu permata,
intan berlian, semua dimasukkan ke dalam ratusan karung dan
kemudian diangkut dalam iringan gerobak dan kereta yang sangat
panjang.

Penyair Sa’idi (1184 – 1291) pernah menyaksikan peristiwa
serupa sebelumnya, yaitu di kota Shiraz. Dia berhasil menyelamatkan
diri dan merekam peristiwa yang dia saksikan dalam sajaknya:
Maka langit pun mencurahkan
Hujan lebat darah ke atas bumi
Dan kebinasaan menyapu bersih
Kerajaan al-Mu’tasim, khalifah orang mukmin
Ya Muhammad ! Apabila hari pengadilan datang
Angkutlah kepala tuan dan lihat
Kesengsaraan umatmu ini !
Saksi lain menulis para musisi dan penyanyi dipanggil agar
bernyanyi dengan riang gembira, sementara bangsawan-bangsawan
kota diperintahkan merawat kuda-kuda mereka. Kitab sal inan al-Qur’an
yang tidak ternilai harganya dilempar dan diinjak-injak. Juwa1yni ,

seorang sejarawan abad ke-13, yang berhasi l melarikan di ri dari
Bukhara ketika kota itu diserang beberapa tahun sebelumnya, mel ihat
bagaimana kota kelahiran Imam Bukhari ahli hadis yang masyhur itu
diratakan dengan tanah. Tul is Juwayni: “Mereka datang, merusak,
menghancurkan, membunuh, memperkosa wanita muda, dan tua,
menjarah harta, dan akhirnya pergi dengan tenang dan puas hati.”
Demikian gambaran sekilas kebengisan dan teror yang dilakukan
tentara Mongol di lebih separo daratan Asia dan Eropa Timur sejak
awal hingga pertengahn abad ke-13 M. Baghdad, Ibukota kekhalifahan
Abbasiyah, mendapat giliiran agak akhir, pada bulan Februari 1258 M.
Serbuan kali ini dirancang dari Transoxania di Asia Tengah dan
dipimpin salah seorang cucu Jengis Khan yang tidak kalah bengis dari
kakeknya. Di antara catatan sejarah mengenai kebiadaban orang-orang
Mongol ialah catatan sejarawan terkemuka Ibnu ‘Athir (w. 1231 M) dan
ahli Geografi Yaqut al-Hamawi (w.1229 ). Menurut mereka, tokoh-tokoh
muslim terkemuka, amir, panglima perang, tabib, ulama,
budayawan, ilmuan, cendekiawan, ahli ekonomi dan politik, serta
saudagar kaya tewas dalam keadaan mengenaskan. Kepala mereka
dipenggal, dipisahkan dari badan, karena khawatir ada yang masih
hidup dan berpura-pura mati.

Timbul pertanyaan: jenis manusia dan bangsa macam apakah
orang-orang Mongol pada abad ke-13 itu ? Mengapa mereka tiba-tiba
muncul menjadi kekuatan yang menggemparkan dunia beradab dan
dapat menaklukkan wilayah yang sangat luas. Dari ujung timur negeri
Cina sampai ujung barat Polandia, dari batas utara Rusia hingga batas
selatan teluk Parsi, semua ditundukkan dan dikuasai hanya dalam
waktu kurang lebih 40 tahun ?

2. Masalah
Latar belakang sebagaimana yang dikemukakan di atas, maka
dapat dirumuskan beberapa masalah pokok dalam karya ilmiah ini
yaitu:
1. Bagaimanakah sejarah kepribadian Jengis Khan dan bangsa
Mongol pada umumnya.
2. Bagaimanakah hubungan Jengis Khan dengan Baghdad hingga ia
berambisi menguasainya.
3. Apakah akibat-akibat yang ditimbulkan dalam sebuah peradaban
tatkala Jengis Khan menguasai Baghdad.

4. Tujuan Penulisan.
1. Untuk mengetahui sejarah kepribadian Jengis Khan dan bangsa
Mongol pada umumnya.
2. Untuk mengetahui hubungan Jengis Khan dengan Baghdad hingga
ia berambisi menguasainya.
3. Untuk dapat mengertahui dan memahami akibat-akibat yang
ditimbulkan dalam sebuah peradaban tatkala Jengis Khan
menguasai Baghdad.

4. Metode Penulisan.
Dalam penulisan ini yang menjadi obyek penulisan adalah bidang
sejarah dengan pendekatan sejarah dan pendekatan budaya. Adapun
langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan pokok
permasalahan
2. Setelah data-data terkumpul maka penulis mendeskripsikan
manurut klasifikasi .
3. Selanjutnya melakukan analisis terhadap data-data kemudian
diseleksi dan ditarik kesimpulan atas kecenderungan yang
dianggap lebih benar dalam bentuk laporan.

PEMBAHASAN
1. Riwayar Jengis Khan
Untuk mengenal watak suatu bangsa, dan kekuatan bangsa
tersebut dalam kurun sejarah tertentu, kita dapat bercermin pada
pemimpinnya dan bagaimana pemimpin tersebut menempa serta
mengorganisasi bangsanya. Tokoh sentral bangsa Mongol pada abad
ke-13 M adalah Jengis Khan serta anak cucunya yang perkasa seperti
Ogotai, Batu, Hulagu dan Kubilai Khan. Jengis telah berhasil
mempimpin bangsa Mongol menaklukkan daratan Asia yang
menyebabkan keturunannya memerintah dan menguasai negeri-negeri
yang ditaklukkannya itu selama berabad-abad. Dialah yang menempa
bangsa Mongol menjadi bangsa yang tangguh, berani dan nekad.
Namanya ketika kecil adalah Temujin. Ayahnya Yasugei, adalah
seorang Khan (raja) yang mengepalai 13 kelompok suku Borjigin, salah
satu suku utama Mongol – Turk yang paling berapi dan gagah perkasa.
Sebagai Khan kecil, Yasugei tunduk kepada Khan yang lebih tinggi,
Utaq Khan. Ketika Temujin berusia 13 tahun terjadilah perebutan
kekuasaan dalam suku Borjigin. Ayahnya mati terbunuh disebabkan
panah beracun Dario salah seorang lawan politiknya. Karena masih
muda, Temujin tidak diakui sebagai penggantinya. Malahan
keselamatan dirinya serta ibu dan adik-adiknya terancam.
Keluarga Yasugei melarikan diri dan mendapat perlindungan
salah seorang saudaranya dari suku Nainan. Pada tahun 1182 M, Temujin
menjadi remaja yang tangkas serta berani, dan berhasil
mempersunting salah seorang putri keluarga terkemuka suku itu, yaitu
Bortai. Bortai mendampingi Temujin sampai akhir hayat dan setia
mengikuti suaminya ke daerah-daerah peperangan.
Bakat Temujin sebagai pemimpin telah kelihatan pada waktu
berusia 20 tahun. Segala beluk ilmu perang dia pelajari, begitu pula
ketangkasan menunggang kuda dan penggunaan segala jenis senjata
perang. Secara diam-diam mengumpulkan para pengikut ayahnya dan
melatih mereka dengan disiplin keras. Pada waktu yang tepat diapun
menyerang bekas lawan politik ayahnya dan berhasil merebut kembali
kedudukannya sebagai khan suku Borjigin. Tidak berapa lama setelah
itu dia berhasil pula menyatukan suku-suku Mongol dan Turk yang
terpencar-pencar di wilayah luas antara sungai Dzungaria dan Irtish.

Pada tahun 1202 huraltai, majlis besar suku-suku Mongol, memberi
pengakuan kepada Temujin sebagai khan seluruh orang Mongol dengan
gelar Jengis Khan. Artinya raja diraja dan dalam bahasa Arab disebut
Sayyid al-Mutlaq.

Salah satu faktor keberhasilan Jengis Khan ialah kebengisan dan
kekejamannya dalam memperlakukan lawan-lawan politik yang
dikalahkannya. Apabila pihak lawan telah ditundukkan, para
pemimpinnya lantas ditangkap dan kemudian direbus hidup-hidup
dalam air panas yang sedang mendidih dalam belanga besar.
Pengangkatannya sebagai khan besar seluruh orang Mongol semakin
memperkuat keyakinan dirinya dan keyakinan bahwa pasukan
tentaranya sangat kuat. Inilah yang mendorong Jengis mulai berpikir
bagaimana menaklukkan negeri-negeri disekitarnya yang wilayahnya
sangat luas dan makmur, seperti Cina, Khwarizmi di Asia tengah,
Persia, India, India utara serta Eropa Timur.

Jengis mulai melatih lebih keras pasukan tentaranya, dia
merekrut sebanyak-banyaknya orang Mongol dari berbagai suku dan
mengorganisasikannya menjadi kekuatan militer yang besar.
Tentaranya dilatih dengan disiplin keras. Teknik-teknik teror dan
kekejaman yang canggih juga diajarkan kepada mereka. Percobaan
pertama untuk menguji keunggulan tentaranya ialah dengan menyerbu
Cina Utara yang dikuasai bangsa Kin. Alasan penyerbuan cukup kuat:
Bangsa Kin sering menyerang Mongol (Tartar) karena menganggap
mereka bangsa biadab. Dalam serangan itu sudah banyak pemimpin
Mongol dibunuh dengan cara yang kejam. Ratusan tahun orang Mongol
menyimpan dendam itu. Dalam serbuan yang dipimpin Temujin tentara
Mongol dengan mudah sekali dapat menundukkan Cina Utara. Penduduk
dan pemimpin mereka dibunuh, kecuali orang cerdik pandai, seniman,
perajin, sastrawan, guru, ahli bahasa, rohaniawan, dokter, ahli
sejarah, dan pakar strategi perang. Mereka sangat penting untuk
melatih dan mendidik orang Mongol sehingga menjadi bangsa yang
beradab.

Sebagai tokoh besar lain, Jengis Khan mempunyai idola yang ikut
membentuk kepribadian dan arah cita-citanya. Idolanya ialah tokoh
utama sebuah cerita rakyat Mongol yang populer bernama Kutula
Khan. Menurut cerita tersebut Kutula Khan bertubuh besar. Suaranya
bagaikan bunyi guruh dan guntur menyambar puncak gunung.
Tangannya yang kuat bagaikan beruang dengan mudah dapat
mematahkan anak panah. Walau udara dingin pada musim gugur dia
dapat tidur dengan nyenyak dekat api pendiangan tanpa pakai baju.
Percikan api yang melukai tubuhnya tidak dia pedulikan, seolah-oleh
gigitan nyamuk saja. Dalam sehari ia makan seekor domba dan satu
guci susu. Kepada seorang jenderalnya Jengis pernah
bertanya:” Apakah kebahagiaan terbesar dalam hidup ini, menurut
pendapatmu? “Jenderalnya menjawab: “Beburu dimusim semi
mengendarai seekor kuda yang tangkas dan bagus! “Bukan!” jawab
Jengis Khan. “Kebahagiaan terbesar ialah menaklukkan musuh,
mengejar mereka sampai tertangkap, kemudian merampas harta milik
mereka, memandangi kerabat dekat mereka meratap dan menjerit-jerit,
menunggangi kuda-kuda mereka, memeluk istri dan anak-anak
gadis mereka serta memperkosa mereka.”

Ogatai, salah seorang putranya, mempraktekkan betul-betul apa
yang dikatakan ayahnya. Apabila Ogatai dan tentaranya berhasil
menduduki kota, dia akan memerintahkan ratusan gadis berbaris dan
kemudian beberapa gadis paling cantik dipilihnya untuk dirinya. Yang
agak cantik untuk jenderal-jenderalnya dan selebihnya untuk prajurit-prajurit
yang lebih rendah pangkatnya. Amir Khusraw, penyair Persia
abad ke-13 yang melarikan diri dan tinggal di India, memberi
gambaran seperti berikut tentang orang-orang Mongol itu: “Mereka
mengendarai unta dan kuda dengan tangkas, tubuh mereka bagaikan
besi, wajah membara, tatapan muka garang, leher pendek, telinga
lebar berbulu dan memakai anting-anting, kulit kasar penuh kutu dan
baunya amat tidak sedap.”

Penulis lain mengatakan bahwa mereka seperti keturunan anjing
saja, wajah rajanya seperti binatang buas dan berkata bahwa tuhan
mencipta mereka dari api neraka. “Sejarawan Ibn ‘Athir melaporkan
ketika Bukhara diserbu, 30 ribu tentara kerajaan Khwarizmi tidak
berkutik mengahapi keganasan dan kebengisan mereka. Juwayni
sejarawan abad ke-13 yang lain, menulis dalam bukunya Tarikh-IJehan
Gusan: “Jengis Khan naik ke atas mimbar masjid dan mengaku
sebagai cemeti Tuhan yang diutus untuk menghukum orang-orang
yang penuh dosa.”

2. Perang dengan negeri Islam
Awal permusuhan dan peperangan dengan negeri Islam bermula
dari peristiwa tahun 1212 M. Pada suatu hari tiga orang saudagar
Bukhara bersama puluhan rombongannya tiba di wilayah Mongol dan
menuju ibukota Karakorum. Entah mengapa, orang-orang Mongol
menangkap mereka dan kemudian menyiksanya. Sedangkan barang
dagangannya dirampas. Tidak lama setelah peristiwa itu Jengis Khan
mengirim 50 orang saudagar Mongol untuk membel i barang dagangan
di Bukhara. Atas perintah amir Bukhara Gayur Khan, mereka ditangkap
dan menghukum mati. Jengis sangat marah dan merancang menyerbu
kerajaan Khwarizmi dan negeri lain di Asia tengah. Penyerbuan itu
baru terlaksana pada tahun 1219, hanya sel isih tiga tahun setelah
tentara Mongol menaklukkan seluruh wilayah Cina.

Pada tahun 1227 Jengis Khan meninggal dunia, sebelum seluruh
wilayah Khwarizmi dan Asia tengah, termasuk Afghanistan dan India
utara, berhasi l ditaklukkan. Dia digantikan putranya Ogatai (1229 –
1241). Dibawah pimpinannya semakin banyak wilayah taklukan Mongol.
Kekuasaan mereka mencapai Sungai Wolga dan Polandia. Sebagian
besar orang Mongol telah memeluk agama Budha, namun beberapa
bangsawan dan istri mereka ada yang memeluk agama Kristen.
Pengganti Ogotai ialah Kuyuk (1246 – 1249) dan Kuyuk digantikan oleh
Mangu (1251-1264), putra sulung Tulul dan Tulul ialah adik bungsu
Ogotai. Pada masa kepemimpinan Mangu inilah konflik terjadi dalam
keluarga Jengis Khan.

Entah apa sebabnya pada suatu hari Mangu menuduh Ogul
Ghaimi, bekas permaisuri Ogatai yang beragama Kristen, bermaksud
menggulingkan kekuasaannya dan menghasut orang Mongol yang
beragama Budha melakukan makar. Ogul Ghaimi dihukum mati dan
hampir semua keturunan Ogotai dibunuh. Keputusan tersebut didukung
oleh Kubilai Khan, yang telah menjadi kaisar Cina, dan Hulagu. Cucu
Ogotai, Kaidu yang menjadi panglima di Subutai , tidak berhasil
melaksanakan niatnya membalas dendam. Ia malah dipaksa
menyerahkan wilayah kemaharajaan Kara Kita (Xinjiang, Cina) kepada
Mangu. Begitulah sejak itu kekuasaan Mangu menjadi bertambah luas.
Sebenarnya serangan terhadap Baghdad tidak pernah terpikirkan
oleh Mangu, sebab di samping tentara Abbasiyah masih dianggap kuat
dan berbahaya, beberapa ulama yang menjadi penasehat penguasa
Mongol dapat meyakinkan bahaya serangan tersebut. Menurut para
ulama, bagaimanapun Khalifah al-Mu’tasim ialah pemimpin kaum
muslimin dan barang siapa yang menistanya pasti akan mendapat
balasan setimpal dari Tuhan. Penyerbuan ke Baghdad terjadi setelah
Mangu memerintahkan Hulagu membasmi istana benteng Alamut dan
wilayah yang dikuasai orang-orang Assasin, yaitu cabang dari sekte
Isma’iliyah (Syi ’ah Imam Tujuh). Orang-orang Hassasin sangat
berbahaya karena sering merampok dan membunuh para saudagar,
termasuk saudagar Mongol.

Ketika mendapat perintah saudaranya itu Jenderal Hulagu juga
mendapat pesan khusus dari istrinya Dokuz Khatun yang beragama
Kristen. Dokuz Khatun mempunyai hubungan dengan pemimpin
pasukan perang sal ib yang sedang berperang dengan tentara Islam
merebut Yerusalem pada waktu itu, dan berkonspirasi dengan
misionaris Kristen untuk menghancurkan kaum Muslim. Dia meminta
kepada suaminya agar setelah menghancurkan benteng Alamut, yang
membentang sepanjang pegunungan di timur laut Iran dan Afghanistan
segera menaklukkan Iran dan Iraq. Demikianlah, sebelum menaklukkan
dan membasmi pengikut Hassasin di Alamut, Hulaghu dan ribuan
tentaranya berangkat dari Transoxiana disebelah utara Samarkand dan
Bukhara. Mula-mula ia menyerbu Merw, Rayya dan Nisyapur, kemudian
Hamadan dan dari situ berputar menuju dataran tinggi Marenda serta
menghancurkan Istana Benteng Alamut dan membinasakan ribuan
pengikut Hassasin. Setelah itu pasukan Hulagu menyerbu Azerbaijan
dan Armenia, yang dengan mudah dapat ditaklukkannya. Gerakan
selanjutnya ialah ke Arah selatan memasuki wilayah al-Jazirah. Setelah
beristirahat agak lama dan mengatur strategi perang diantaranya
mengirim mata-mata, pada hari Minggu 4 Safar H (Februari 1258)
pasukan Hulagu bergerak mendekati Baghdad. Walaupun perlawanan
yang diberikan oleh tentara Abbasiyah cukup sengit, namun tidak
begitu sukar bagi Hulagu untuk mengalahkan dan menghancurkan
mereka.

Catatan yang cukup menarik tentang kekalahan tentara kaum
Musl imin Baghdad itu terdapat dalam buku Tarikh al-Islam (hlm. 206-
207) karangan sejarawan terkenal abad ke-13M Muhyiddin al-Khayyat:
“Sejak bertahun-tahun lamanya telah timbul pertentangan tajam
antara pengikut Sunni dan Syi ’ah, juga antara pengikut mazhab Syafi ’i
dan Hanafi. Pertumpahan darah telah sering pula terjadi dalam
pertikaian yang timbul diantara golongan-golongan yang sal ing
bertentangan itu. Pada saat itu khalifah yang berkuasa ialah al-
Mu’tasim, sedangkan wazirnya Muayyad al-Din al-Qami, seorang tokoh
Syi’ah terkemuka.

Amir Abu Bakar, putra khalifah, dan panglima Rukhnuddin al-
Daudar sudah lama menaruh dendam kepada wazir al-Qami. Pada suatu
hari dia memerintahkan tentara mengobrak-abrik tempat tinggal orang
Syi ’ah. Peristiwa ini oleh wazir dirasakan sebagai pukulan hebat
terhadap dirinya. Diam-diam dia berkorespondensi dengan Hulagu dan
mendorong panglima Mongol dari Transoxiana itu segera berangkat
merebut ibukota Baghdad.

Hulagu pun datang dengan ribuan tentaranya pada bulan Safar
656H dan mengepung Baghdad. Dengan persetujuan khalifah panglima
al-Daudar membawa pasukan tentara Baghdad untuk mengusir tentara
Mongol. Tetapi malang tidak dapat dielakkan . Pasukannya kalah telak
dan dia sendiri dengan kepala terpisah dari badan. Sisa pasukannya
menyelamatkan diri ke balik tembok ibukota yang kukuh dan sebagian
lagi melarikan diri ke Syiria.

Setelah itu wazir al-Qami menemui Hulagu, dan atas persetujuan
Khalifah al-Mu’tashim, dilakukan perundingan dengannya. Wazir dan
pengiringnya pulang ke dalam kota, dan setelah terjadi kericuhan
diapun berkata kepada khalifah: “Hulagu Khan berjanji akan tetap
menghormati dan Tuan sebagai khalifah, seperti mereka mengakui
Sultan Konya. Bahkan ia hendak mengawinkan seorang putrinya
dengan putra Tuanku, Amir Abu Bakar !”
Muhyiddin al-Khayyat selanjutnya melaporkan bahwa khalifah al-
Mu’tasim disertai seluruh pembesar kerajaan dan hakim, serta keluarga
mereka, berjumlah 3000 orang keluar dari istana menemui Hulagu.
Pada mulanya mereka disambut dengan ramah, tetapi tidak lama
kemudian dibantai habis. Wazir al-Qami dan keluarganya juga dibantai
dengan cara lebih bengis. Sebelum dibunuh wazir al-Qami dinista
Hulagu, “Kamu pantas mendapat hukuman berat karena berkhianat
kepada orang yang telah memberimu kedudukan istimewa.”
Selama 40 hari pasukan Hulagu membunuh, menjarah,
memperkosa wanita dan membakar. Rumah-rumah ibadah dihancurkan.
Bayi dalam gendongan dibantai bersama ibu mereka. Wanita hamil
ditusuk perutnya. Sejak saat itu pula kedaulatan dan kekuasaan
Mongol dinobatkan atau Bani Ilkhan berdiri kukuh di Persia (iran dan
Iraq). Hulagu Khan dinobatkan sebagai khan dan memilih Tabriz
sebagai ibukota kemaharajaannya. Hanya Mesir dan Syiria yang tidak
dapat ditaklukkan karena kuatnya pasukan kaum musl imin di situ.

3. Orang Mongol Memeluk Islam
Dalam perjalanan sejarah suatu bangsa sering terjadi sesuatu
yang musykil dan tidak pernah terbayangkan. Orang Mongol yang
dahulunya merupakan musuh dan seteru sengit orang Islam, pada
akhirnya tunduk kepada kepercayaan penduduk negeri-negeri yang
mereka taklukkan. Tidak lama setelah jatuhnya kota Baghdad itu telah
banyak bangsawan dan pemimpin Mongol secara diam-diam memeluk
Islam. Pada awal abad ke-14 , belum seratus tahun maklumat
permusuhan terhadap umat Islam diumumkan oleh founding father
mereka Jengis Khan, sebagian besar orang Mongol dinegeri kaum
muslimin telah dirasuki agama Islam dan kebudayaan masyarakatnya.
Namun demikian, semua itu berjalan dalam proses yang berliku-liku.
Sebelum berbondong-bondong memeluk Islam mereka telah
menjadi penganut Syamanisme dan Budhisme yang fanatik. Usaha
misionaris Kristen untuk mengkristenkan mereka bahkan hampir
berhasi l lebih dari dua tiga kali. Beberapa pemimpin Mongol bahkan
telah menjalin kerja sama dan konspirasi dengan saja-raja Eropa dan
pemimpin perang pasukan Salib merekla di tanah suci Yerusalem. Di
antara bentuk bentuk konspirasi itu ialah bersama-sama menghajar
dan menghancurkan negeri Islam.

Di antara pemimpin Mongol pertama yang memeluk Islam ialah
Barkha Khan (1256-1266 ), cucu Jengis Khan dari putranya Juchi Khan,
yang menguasai Eropa timur dan tengah dan berkedudukan di Sarai,
lembah Wolga. Dia dan para pengikutnya memeluk Islam pada tahun
1260 berkat dakwah para ulama sufi yang berada di daerah tersebut.
Pada tahun itu juga Barkha mengirim ribuan tentaranya untuk
membantu sultan Baybars di Mesir yang sedang menghadapi serangan
Hulagu Khan dan tentara Salib. Dalam pertempuran di Ain Jalut
pasukan Hulagu dapat dihancurkan. Sejak itu agama Islam berkembang
pesat do lembah Wolga dan orang-orang Mongol yang bermukim di
wilayah itu menyebut diri sebagai orang Kozak (Kystchak).
Adapun keturunan Hulagu Khan sendiri menempuh jalan berl iku
sebelum memeluk Islam. Ulama-ulama Islam juga tidak hanya bersaing
dengan misionaris Kristen, tetapi bersaing pula dengan sesama
mereka, yaitu ulama mazhab Syafi’I dengan Hanafi dan ulama Syi’ah.
Pada mulanya usaha misionaris Kristen hampir berhasi l . Pengganti
Hulagu Khan , yaitu Abagha (1265-1282) memeluk Kristen berkat
bujukan ibunya Dokuz Khatun. Dalam istanya banyak pendeta Kristen
tinggal, diantaranya sebagai penasehat politik.


Pada tahun 1274, Abagha mengirim utusan khusus menghadiri Konsili Lyon. Dia sering
berkirim-kiriman surat dengan Raja Louis (1266-1270) dari Prancis dan
raja Charles I (1268-1285 ) dari Sicilia. Tetapi malan, putra Abagha,
yang menggantikan ayahnya dan sejak kecil telah memeluk agama
Kristen, yaitu Tagudar (1281-1284) menjelang dewasa memeluk Islam.
Dia menyebut dirinya sebagai Sultan Muhammad Tagudar Khan. Namun
karena tindakannya memberi peluang terlalu besar bagi perkembangan
Islam, dia diadukan oleh-tokoh masyarakat Mongol kepada Kubilai
Khan di Khanbalik, Cina. Perebutan kekuasaan segera terjadi di bawah
pimpinan Arghun, saudara kandung Tagudar. Dalam peristiwa itu
Tagudar mati terbunuh.

Setelah naik tahta, Arghun (1284-1290 ) segera menyingkirkan
pembesar-pembesar Islam dari kedudukan penting mereka. Mereka
digantikan oleh pembesar beragama Budha dan Kristen. Pengganti
Arghun, yaitu Baidu Khan (1293-1295) berbuat serupa. Namun justru
pada masa pemerintahan Baidu inilah terjadi peristiwa paling
bersejarah. Putranya yang menggantikan dia, Ghazan Khan (1295-
1302), walaupun sejak keci l dididik sebagai penganut Budhis yang
fanatik, ketika naik tahta menyatakan memeluk Islam.

Peristiwa tersebut merupakan kemenangan besar Islam. Ghazan
lahir pada tanggal 4 Desember 1271 M. Usianya ketika naik tahta
belum genap berusia 24 tahun. Pada umur 10 tahun dia diangkat
menjadi gubernur Khurasan. Pendamping dan penasehatnya ialah Amir
Nawruz, putra Arghhun Agha yang telah memerintah selama 39 tahundi
bebertapa provinsi Persia di bawah pengawasan langsung Jengis Khan
dan penggantinya. Amir Nawruz merupakan pembesar Mongol awal
yang memeluk agama Islam secara diam-diam. Atas usaha dialah
Ghazan Khan memeluk agama Islam.

Ajakan memeluk Islam itu berawal ketika Ghazan sedang
berjuang merebut tahta kerajaan dari saingan utamanya, Baidu. Amir
Nawruz berkata, “Tuanku ! Berjanjilah, apabila kelak Allah
menganugerahkan kemenangan kepada Tuan, sebagai ucapan syukur
Anda mesti memeluk agama Islam !” Atas petunjuk dan nasihat Amir
Nawruz itulah Ghazan Khan berhasi l mengalahkan Baidu dan naik tahta
pada tanggal 19 Juni 1295 (4 Sya’ban 644 H). Janjinya untuk memeluk
Islam dipenuhi hari itu juga. Bersama 10.000 orang Mongol lain,
termasuk sejumlah pembesar dan jenderal dia mengucapkan dua
kalimah syahadat di hadapan Syekh Sadruddin Ibrahim, putra tabib
terkemuka al-Hamawi.

Setelah empat bulan memerintah, Sultan Ghazan memerintahkan
tentaranya menghancurkan kui l Budha, gereja dan sinagor di seluruh
kota Tabriz. D atasnya kemudian dibangun kembali masjid dan
madrasah, sebab di tempat yang sama itulah dahulu Hulagu
menghancurkan puluhan masdrasah dan masjid yang megah. Denman
berbuat demikian dia telah menebus dosa leluhurnya kepada kaum
muslimin.


Menurut Edward G. Browne (Literary History of Persia), Vol. II,
1956), dalam sejarah Persia Sultan Ghazan merupakan raja Mongol
pertama yang mencetak uang dinar dengan inskripsi Islam. Syariat
Islam kemudian kembali ditegakkan dan undang-undang kerajaan
diganti dengan undang-undang baru yang bernafas Islam. Pada bulan
November 1297 amir-amir Mongol mulai memakai jubahdan surban ala
Persia, dan membuang pakaian adat nenek moyangnya. Walaupun
perubahan itu menyebabkan banyak orang Mongol yang masih
beragama Budha tidak puas, dan terus menerus menyebarkan intrikintrik
dan meletuskan sejumlah pemberontakan, namun pemerintahan
Ghazan relatif aman dan mantap. Reformasi lain yang dia lakukan ialah
pengurangan pajak dan penyusutan jumlah pelacuran dan lokasinya
diseluruh negeri.

Sultan Ghazan wafat pada tanggal 17 Mei 1304 dalam usia 32
tahun disebabkan konspirasi pol itik yang bertujuan mengangkat
Alafrank, putra saudara sepupunya Gaykhatu, sebagai raja Mongol
beragama Budha. Kematiannya ditangisi diseluruh Persia. Dia bukan
hanya seorang negarawan muda yang bijak dan taat beribadah, tetapi
juga pel indung i lmu dan sastra. Dia menyukai seni, khususnya
arsitektur, karejinan dan ilmu alam. Dia mempelajari astronomi, kimia,
mineralogy, metalurgi, dan botani. Dia menguasai bahasa Persia, Arab,
Cina Mandarin, Tibet, Hindi dan Latin. Penggantinya, Uljaytu
Khudabanda (1304-1316), meneruskan kebijakannya. Tetapi raja
Mongol yang paling saleh ialah Abu Sa’id (1317-1334 M), pengganti
Uljaytu. Di bawah pemerintahan Abu Sa’id ini lah orang Mongol Persia
menjadi pembela gigih Islam serta pel indung utama kebudayaan Islam.

PENUTUP
Demikianlah analisis ringkas tentang perjalan sejarah jenghis
Khan yang telah memberikan sebuah catatan hitam dalam lembaran
sejarah peradaban. Dahulunya bangsa Mongol memang sangat dikenal
sebuah bangsa yang memiliki keberanian maupun kenekatan yang
puncak kejayaan berada di tangan Jengis Khan sampai beberapa
generasi dibawahnya. Keberadaan, kekejaman maupun kebengisan
Jenghis Khan takkan pernah terlupakan dalam sejarah peradaban,
walaupun cucunya belakangan dianggap dapat menebus kesalahankesalahan
kakeknya namun hancurnya peninggalan-peninggalan
sejarah dalam sebuah peradaban mungkin tak akan dapat dilupakan.

DAFTAR PUSTAKA

Sidi Gazalba, 1987, Asas Kebudayaan Islam Pembaharuan Ilmu dan
Filsafat, Jakarta Bulan Bintang.

Omar Amin Husein, 1975, Kultur Islam, Sejarah Perkembangan
Kebudayaan Islam dan Pengaruhnya dalam Dunia Internasional,
Jakarta, Bulan Bintang.

Dewan Redaksi, 1994, Ensiklopedi Islam I, Jakarta, PT. Ichtiar Baru
Van Hoeve.

Gibb, H.A.R., Modern Trend in Islam, Chicago, 1945
Rom Landaou, 1962, The Arab Heritage Of Western Civilization, New
York Arab Information Centre.

Titus Burchardt, 1976, Art Of Islam, Language and Meaning, London:
World of Islam Festival Trust

Nurchol ish Majid, 1997, Kaki Langit Peradapan, Jakarta, Paramadina.

Browne, Edward G., 1956, A Literary History of Persia, London: T.Fisher
Unwin, dan Cambridge, The University Press.

Hossen Nasr, Sayyed, 1986, Sains Dan Peradaban di Dalam Islam
(terjemahan), Pustaka, Bandung

Ditulis Oleh:
DRS. BAHRUM SALEH, M.AG.
Fakultas Sastra
Program Studi Bahasa Arab
Universitas Sumatera Utara

Minggu, 09 Agustus 2009

Runtuhnya Daulah Abbasiah Dan Luluh Lantaknya Kota Baghdad

Pernah tahu bangsa yang sangat terkenal dengan kekejamannya? Bangsa yang telah membasmi kaum muslimin dengan jumlah yang fantastis? Jumlah yang sangat tinggi (dengan peralatan perang pada masa itu) dibanding apa yang telah dan sedang terjadi di Irak saat ini (dengan peralatan perang yang canggih)? Mereka adalah bangsa Tartar. Mengapa mereka bisa berbuat demikian? Di mana letak kesalahan kaum muslimin dan pemimpin mereka?


Runtuhnya Baghdad (ibukota daulah Abbasiah) di tangan bangsa Tartar
tidak terlepas dari pengkhianatan yang dilakukan oleh al-wazir Umayyiduddien
Muhammad bin al-Alqami ar-tafidhi seorang Syiah Rafidhah yang amat
dendam terhadap ahlu sunnah.


Dia menjabat wazir (Perdana Menteri) bagi Khalifah al-Musta’shim billah,
khalifah terakhir bani Abbas di Iraq. Peristiwa tersebut terjadi pada
12 Muharram 656 H. Hulaku Khan, cucunya Jenggis Khan mengepung Baghdad
dengan seluruh bala tentaranya yang berjumlah kurang lebih 200.000
tentara. Mereka mengepung istana Khalifah dan menghujaninya dengan
anak panah dari segala arah, hingga menewaskan seorang budak wanita
yang sedang bermain di hadapan Khalifah untuk menghiburnya. Budak
wanita tersebut adalah seorang selir (gundik) bernama Arafah.


Sebilah anak panah dating dari jendela menembus tubuhnya pada saat
is menari di hadapan Khalifah maka cemaslah Khalifah dan amat terkeiut.
Pada anak panah yang menewaskan selirnya itu, mereka dapati tulisan:
"Jika Allah menghendaki melaksanakan Qadha dan takdimya,
maka dia akan melenyapkan akal orang yang berakal"


Setelah itu Khalifah memerintahkan agar memperketat keamanan. Perbuatan
pengkhianatan Wazir Ibnu al-Alqami yang begitu dendam kepada ahlu
sunnah itu, disebabkan pada tahun lalu (655 H) terjadi peperangan
hebat antara ahlu sunnah dengan rafidhah yang berakhir dengan direbutnya
kota al-Karkh yang merupakan pusat rafidhah dan dijarahlah beberapa
rumah sanak famili al-Wazir al-Alqami.


Sebelum terjadinya peristiwa yang amat memilukan ini, ia (Ibnul
Alqami)
secara diam-diam berusaha mengurangi jumlah tentaranya. Dengan
cara memecat sejumlah besar tentara dan mencoret nama mereka
dari dinas ketentaraan. Sebelumnya, jumlah tentara pada masa
kekhalifahan al-Mustanshir (Khalifah sebelum at-Musta’shim) mencapai
100.000 orang. Jumlah ini terus dikurangi oleh Ibnul
Alqami hingga menjadi 10.000 orang
. pada masa kekhalifahan at-Musta’shim
billah.


Kemudian setelah itu barulah ia (Ibnul Alqami) mengirim surat rahasia
kepada bangsa Tartar, memprovokasi mereka untuk menyerang Baghdad.
Dia terangkan di dalam surat rahasia tersebut kelemahan angkatan bersenjata
daulah Abbasiah di Baghdad. Oleh karena itu dengan mudah sekali bangsa
Tartar dapat menaklukkan Baghdad.


Semua itu ia (Ibnu) Alqami) lakukan untuk membalas dendam kesumatnya
dan ambisinya untuk melenyapkan as-sunnah dan memunculkan bid’ah Rafidhah.
Wallahul Musta’an (Hanya Allah-lah tempat memohon pertolongan).


Tatkala tentara Tartar mengepung benteng Baghdad mulai 12 Muharram
656 H, mulailah al-Wazir Ibnul Alqami menunjukkan pengkhianatannya
yang kedua kali, yaitu dialah orang yang pertama sekali menemui
tentara Tartar
. Dia keluar dari Baghdad bersama keluarga pembantu
dan pengikutnya pada saat-saat genting untuk menemui Hulaku Khan.
Kemudian ia kembali ke Baghdad, lalu membujuk Khalifah agar keluar
bersamanya menemui Hulaku Khan untuk mengadakan perdamaian dengan
memberikan setengah hasil devisa negara kepada mereka (bangsa Tartar).


Maka berangkatlah Khalifah bersama para Qadhi. Fuqaha’ shufiyah, tokoh-tokoh
negara, masyarakat dan petinggi-tinggi daulah dengan 700 kendaraan.
Tatkala mereka hampir mendekati markas Hulaku Khan mereka di tahan
oleh tentara Tartar, dan tidak diizinkan menemui Hulaku Khan, kecuali
Khalifah bersama 17 orang saja.


Lalu Khalifahpun menemui Hulalu Khan bersama 17 orang tersebut. sedangkan
yang lain menunggu bersama kendaraan mereka. Sepeninggal Khalifah,
sisa rombongan ini dirampok dan dibunuh oleh tentara Tartar. Selanjutnya
Khalifah dihadapkan kepada Hulaku Khan, dan ditanya macam-macam, tatkala
itu Khalifah menjawab dengan suara bergetar ketakutan karena diteror
dan ditekan.


Kemudian Khalifah kembali ke Baghdad disertai oleh al-Wazir Ibnul
al-Alqami dan Khawajah Nashiruddin ath-Thuusi. Dan di bawah rasa takut
dan tertekan, Khalifahpun mengeluarkan emas, perhiasan, permata dan
lain-lain dalam jumlah yang amat banyak. Akan tetapi sebelum itu gembong-gembong
Rafidhah sudah membisiki Hulaku Khan agar tidak menerima tawaran perdamaian
dad Khalifah. al-Wazir Ibnul Alqami berhasil mempengaruhi Hulaku Khan,
bahwa perdamaian untuk nanti hanya bertahan 1 sampai 2 tahun saja,
dan mendorongnya untuk membunuh Khalifah.


Tatkala Khalifah kembali dengan membawa barang yang banyak kepada
Hulaku Khan, Hulaku Khan memerintahkan untuk mengeksekusi Khalifah.
Maka pada tanggal 14 Shafar bertepatan pada hari Rabu terbunuhlah
Khalifah al-Musta’shim billah. Konon kabarnya yang mengisyaratkan
agar membunuh Khalifah adalah al-Wazir Ibnul al-Qami dan al-Maula
Nashiruddin ath-Thuusi.


Dan bersamaan dengan tewasnya Khalifah, maka tentara Tartarpun menyerbu
Baghdad tanpa perlawanan lagi. Maka rubuhlah Baghdad di tangan bangsa
Tartar. Dilaporkan bahwa jumlah yang tewas ketika itu lebih kurang
2 juta orang. Tidak ada yang selamat kecuali ahlu dzimmah (Yahudi
dan Nashrani) serta orang-orang yang meminta perlindungan kepada bangsa
Tartar, atau yang berlindung di rumah al-Wazir Ibnul Alqami dan para
konglomerat yang membagikan harta mereka kepada Tartar dengan jaminan
keamanan pribadi.


Turut terbunuh juga bersama KhalIfah, dua putra beliau yaitu Abul
Abbas Ahmad (25 tahun) dan Abul Fadhl Abdurrahman (23 tahun) dan ustadz
istana Khalifah yaitu syeikh Muhyiddin Abdul Faraj Ibnul Jauzi bersama
tiga putra beliau yaitu Abdullah, Abdurrahman dan Abdul Karim. Sedang
putra terkecil Khalifah yaitu Mubarak ditawan bersama tiga saudara
perempuannya yaitu Fathimah, Khadijah dan Maryam. Dikatakan bahwa
para gadis yang ditawan tentara Tartar dari istana Khalifah mencapai
1000 orang.
HREF="#foot26">1


Dengan runtuhnya Baghdad maka runtuhlah Daulah bani Abbas yang berkuasa
selama 524 tahun. Mungkin pembaca bertanya-tanya untuk apa sejarah
memilukan ini dituangkan di sini?! Sungguh kami tidak akan memuatnya,
seandainya bukan karena hadits Rasul yang berbunyi:



Seorang Mu’min tidak akan disengat dua kali dan satu lubang. (HR
Bukhari dan Muslim. dari hadits Abu Hurairah)

Sungguh kita tidak ingin sejarah hitam tersebut berulang kembali!.
Kita harus mengambil ibrah dari sejarah tersebut. Kalau kita lihat
kembali, keruntuhan Baghdad (daulah Abbasiah) banyak disebabkan pengkhianatan
dari al-Wazir Ibnul Alqami seorang mubtadi’ (ahli bid’ah). Merupakan
kesalahan yang amat fatal memberikan kepercayaan kepada mereka.

Sumber: http://blog.vbaitullah.or.id/2004/09/06/350-runtuhnya-daulah-abbasiah-dan-luluh-lantaknya-kota-baghdad/